Stoicism dan Self Love: Cara Mencintai Diri Tanpa Egois
ilustrasi stoicism-dok. istimewa-
bogor.disway.id - Self love sering disalahartikan sebagai memanjakan diri tanpa batas atau selalu menuruti keinginan pribadi. Padahal, Self love yang sehat justru berakar pada kedewasaan emosional dan kemampuan mengelola diri. Di sinilah Stoicism hadir sebagai filosofi hidup yang relevan—tenang, rasional, dan penuh kesadaran.
Stoicism bukan tentang menekan emosi, melainkan memahami apa yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan. Prinsip ini sangat sejalan dengan konsep self love yang dewasa dan berkelanjutan.
Memahami Stoicism dalam Konteks Self Love
Stoicism mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak berasal dari hal eksternal seperti validasi orang lain, pencapaian, atau materi, melainkan dari cara kita merespons keadaan. Dalam self love, ini berarti:
- Tidak menggantungkan harga diri pada penilaian orang lain
- Menerima kekurangan diri tanpa menyalahkan diri sendiri
- Fokus pada proses, bukan hasil semata
Dengan pola pikir ini, self love menjadi lebih stabil dan tidak mudah goyah oleh situasi luar.
Mengendalikan Diri, Bukan Mengendalikan Dunia
Salah satu konsep utama Stoicism adalah dichotomy of control—memisahkan hal yang berada dalam kendali kita dan yang tidak. Dalam praktik self love, ini membantu kita:
- Berhenti overthinking terhadap hal di luar kendali
- Tidak memaksakan standar hidup orang lain pada diri sendiri
- Lebih bijak dalam mengambil keputusan emosional
- Mencintai diri sendiri berarti tahu kapan harus berusaha dan kapan harus melepaskan.
Stoicism Mengajarkan Self Compassion yang Realistis
Berbeda dengan self love yang terlalu idealis, Stoicism mengajarkan kasih pada diri sendiri dengan cara yang realistis. Kita boleh gagal, merasa sedih, dan lelah—namun tidak larut di dalamnya. Filosofi ini menekankan:
- Belajar dari kesalahan tanpa menghakimi diri
- Menerima emosi sebagai bagian dari manusia, bukan kelemahan
- Tetap bertanggung jawab atas sikap dan pilihan hidup
Ini menjadikan self love bukan pelarian, melainkan fondasi mental yang kuat.
Tidak Egois, tapi Tetap Tegas pada Diri Sendiri
Stoicism membantu membangun batasan yang sehat. Self love bukan berarti selalu berkata “iya” demi diterima, tapi berani berkata “tidak” demi kesehatan mental. Prinsip Stoic mendorong kita untuk:
- Menghormati diri tanpa merugikan orang lain
- Bertindak berdasarkan nilai, bukan emosi sesaat
- Menjaga ketenangan meski berada di situasi sulit
Self love yang lahir dari Stoicism membuat kita lebih tenang, dewasa, dan konsisten.
Mengapa Stoicism Relevan di Era Sekarang
Sumber: