Paylater: Solusi Instan atau Jebakan Finansial? Fenomena Utang Digital di Indonesia
ilustrasi BNPL.-dok. istimewa-
bogor.disway.id - Klik cepat, barang sampai, cicilan menyusul. Awalnya terasa menyenangkan. Namun ketika awal bulan tiba, senyum itu sering berubah menjadi cemas. Bukan karena tak menerima gaji, melainkan karena dana yang baru masuk langsung habis untuk membayar tagihan aplikasi paylater.
Kini, utang tidak lagi menakutkan seperti dulu. Ia hadir dalam bentuk modern yang praktis, cukup lewat ponsel. Konsep “beli sekarang, bayar nanti” terdengar ringan, tetapi bagi sebagian orang justru menjadi beban tersembunyi.
Paylater dan Pola Hidup “Sisa Gaji”
Dewi (27) mulai menggunakan paylater sejak awal bekerja. Awalnya sekadar ingin membeli ponsel baru sebelum tabungan mencukupi. Prosesnya mudah, cicilannya terasa ringan.
Namun setelah itu, penggunaan paylater meluas, bahkan untuk kebutuhan harian seperti makanan promo. Setiap awal bulan, ia harus memutar otak mengatur gaji yang sebagian besar langsung terpotong cicilan. Ia merasa hidup dari sisa gaji.
Menurutnya, paylater bisa menjadi jebakan bagi mereka yang belum disiplin mengatur keuangan.
Lebih Nyaman ke Aplikasi daripada Meminjam ke Kerabat
Berbeda dengan Dewi, Rudi menggunakan layanan seperti Kredivo dan AdaKami karena kebutuhan mendesak keluarga. Ia merasa sungkan meminjam pada orang terdekat.
Melalui unggahan KTP dan swafoto, dana jutaan rupiah langsung cair. Namun kemudahan itu berujung tekanan. Cicilan dan tunggakan membuat hidupnya tidak tenang. Ia kini bertekad melunasi utang dan berhenti meminjam.
Dari Kasbon Warung ke Dompet Digital
Utang sebenarnya bukan hal baru. Praktik kasbon sudah lama ada di warung. Bedanya, kini sebagian orang berutang untuk mengisi saldo dompet digital.
Beberapa pedagang mulai selektif memberi kasbon karena khawatir dana tersebut digunakan untuk aktivitas berisiko seperti judi online. Utang yang dulu menjadi penyangga kebutuhan dapur kini berpotensi menjadi pintu konsumsi digital yang tak terkontrol.
Bisnis Fintech yang Makin Menggiurkan
Sementara sebagian masyarakat berjuang membayar cicilan, perusahaan teknologi finansial justru mencatat pertumbuhan signifikan.
Sumber: