“Rp100 Ribu Sehari Nggak Cukup”: Efek PPN 12% Terasa dari Dapur hingga Showroom

“Rp100 Ribu Sehari Nggak Cukup”: Efek PPN 12% Terasa dari Dapur hingga Showroom

ilustrasi pajak.-dok. istimewa-

“Duit seratus ribu sehari sekarang nggak cukup.”

Keluhan itu kini kian sering terdengar dari para ibu rumah tangga di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat.

Jika dulu Rp100 ribu masih cukup untuk memenuhi kebutuhan makan seharian, kini jumlah tersebut harus diakali, bahkan hanya cukup untuk satu waktu makan. Kondisi ini mencerminkan turunnya daya beli masyarakat, yang semakin terasa sejak kebijakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% diberlakukan pada 1 Januari 2025.

Meski pemerintah menyebut PPN 12% hanya dikenakan pada barang dan jasa tertentu, efeknya ikut merembet ke harga kebutuhan pokok di pasaran.

Belanja Harian Makin Tertekan

Santhy Rini (50), ibu rumah tangga di Jakarta, mengaku kini hanya membeli bahan makanan untuk kebutuhan sehari. Menyimpan stok dalam jumlah besar sudah bukan pilihan.

“Uang belanja saya antara Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per hari. Tapi Rp100 ribu pun kadang nggak cukup, jadi cuma beli buat makan malam aja,” ujarnya.

Pedagang dan UMKM Ikut Mengencangkan Ikat Pinggang

Hanny Santoso (35), pemilik usaha katering, mengaku harus semakin selektif memilih bahan.

“Sekarang lihat harga dulu, baru tentukan menu. Kadang harus mengurangi porsi bahan,” katanya.

Hal serupa dirasakan Andri (30), pedagang sayur di Pasar Reni Jaya Lama, Depok. Sejak PPN 12% berlaku, biaya belanja stok ke pasar induk bisa mencapai Rp2,5 juta per hari. Harga cabai bahkan sempat menembus Rp100 ribu per kilogram.

Untuk bertahan, Andri membuka layanan pesan antar online agar jangkauan pembeli lebih luas.

Barang Mewah dan Elektronik Ikut Tertekan

Di sektor otomotif, penjualan mobil juga melambat. Ahmad, sales marketing di showroom Mitsubishi Jakarta Timur, mengatakan konsumen kini jauh lebih berhati-hati.

Sumber: