Pemkab Bogor Buka Opsi Modifikasi Cuaca, Atasi Kekeringan Ekstrem

Pemkab Bogor Buka Opsi Modifikasi Cuaca, Atasi Kekeringan Ekstrem

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) membuka opsi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi kekeringan yang semakin panjang.-Sandika Fadilah Rusdani-

BOGOR, DISWAY.ID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) membuka opsi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi kekeringan yang semakin panjang.

Namun, upaya tersebut belum maksimal karena beberapa hari terakhir minim awan yang berpotensi dijadikan hujan.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto mengatakan modifikasi cuaca sebenarnya telah dilakukan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

BACA JUGA:KONI Kabupaten Bogor Ajak Masyarakat Bijak Sikapi Penyidikan KPK, Arif Rochmawan: Hormati Setiap Proses

Tetapi, hasilnya belum maksimal lantaran awan yang tersedia tidak cukup mendukung selama proses berlansgung.

"“BNPB dari kemarin melakukan beberapa modifikasi cuaca di wilayah udara Jabodetabek. Tetapi tidak banyak potensi-potensi awan yang bisa dijadikan hujan,” ujar Rudy kepada wartawan, Kamis, 3 September 2026.  

Menurutnya, Pemkab Bogor masih terus memantau kondisi cuaca. Jika ditemukan awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan modifikasi, langkah tersebut akan diupayakan guna mengatasi kekeringan.

"Kita sudah mengalami kekeringn lebih dari sebulan, bahkan kita menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan sebelum masuk puncaknya kemudian kita perpanjang status tanggap tersebut sampai 15 September 2026 nanti," jelasnya. 

Penanganan dilakukan dengan distribusi air bersih setiap hari oleh BPBD, Damkar, dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

BACA JUGA:Anak 11 Tahun Tewas Tenggelam di Sungai Cileungsi Bareng Teman, Diduga Tidak Pandai Berenang

Pemkab Bogor juga menyiapkan toren di sejumlah desa sebagai tempat penampungan air.

Selain itu, Pemkab Bogor menginventarisasi sumber mata air yang belum dikelola optimal untuk dibuatkan penampungan dan didistribusikan kepada masyarakat di wilayah sekitar.

Rudy menyebut persoalan kekeringan berpotensi berlangsung lebih panjang. Prediksi puncak musim kemarau yang sebelumnya diperkirakan terjadi September kini berpotensi bergeser hingga Oktober.

“Kita terus berupaya dan berikhtiar bersama sama menghadapi musim kemarau cukup panjang,” pungkasnya.

Sumber:

Berita Terkait