Harga Daging Sapi Naik Jelang Ramadhan 1447, Peternak Ungkap Krisis Bibit Jadi Akar Masalah

Harga Daging Sapi Naik Jelang Ramadhan 1447, Peternak Ungkap Krisis Bibit Jadi Akar Masalah

ilustrasi daging sapi.-dok. istimewa-

Menjelang Ramadhan 1447 H, pasar daging sapi justru menghadapi kondisi tidak lazim. Harga terus melonjak, sementara pasokan di lapangan semakin terbatas. Pedagang dan konsumen pun sama-sama mengeluh.

Untuk menelusuri akar persoalan, tim Bisik Disway mengunjungi Putra Jakarta Farm di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Dari balik kandang, terungkap bahwa masalah utama bukan berada di pasar, melainkan di hulu: krisis bakalan sapi.

Pemilik Putra Jakarta Farm, Muhammad Ryan Firmansyah, menyebut keterbatasan bibit sapi sudah berlangsung bertahun-tahun. Wabah penyakit seperti PMK, Lumpy Skin Disease (LSD), dan Septicemia Epizootica (SE) membuat banyak sapi betina gagal bunting bahkan kehilangan janin.

“Stok anak sapi terus menurun. Dampaknya baru terasa saat permintaan naik seperti jelang Ramadhan,” ujar Ryan, Minggu (1/2/2026).

Biaya Produksi Melonjak

Selain krisis bibit, beban biaya produksi juga meningkat tajam. Harga jerami dari luar daerah kini menembus Rp2 juta per truk, naik dari sebelumnya Rp1,5 juta. Ongkos angkut sapi dari Lampung ke Jakarta pun melonjak hingga Rp7 juta per truk.

Kondisi ini otomatis mendorong naiknya harga sapi di tingkat peternak.

Sapi Kurban Lebih Menggiurkan

Ryan menambahkan, banyak peternak kini lebih memilih pasar sapi kurban karena keuntungannya lebih besar dibandingkan sapi potong harian. Akibatnya, suplai daging untuk konsumsi rutin ikut menyusut.

Menurutnya, permasalahan inti kembali pada sistem pembibitan yang belum tertata. Sapi impor memiliki sistem breeding terencana, sedangkan peternak lokal masih berjalan secara tradisional.

Pasar Tradisional Tertekan

Kondisi ini tercermin di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat. Dari delapan lapak daging sapi, kini hanya dua hingga tiga yang masih beroperasi.

Pedagang bernama Imron (50) mengungkapkan harga daging melonjak dari Rp90 ribu menjadi Rp150 ribu per kilogram. Mogok berjualan yang sempat dilakukan pedagang pun gagal menekan harga.

“Bukannya turun, malah naik lagi. Pembeli jadi makin sepi,” katanya.

Sumber: