Sebagian besar pakaian bekas yang dijual di Pasar Senen berasal dari impor, terutama dari China.
Barang-barang tersebut biasanya dikirim dalam bentuk balpres dan didistribusikan oleh pemasok ke pedagang.
Harga satu balpres bisa mencapai Rp6 juta hingga Rp8 juta, tergantung kualitas dan ukuran.
Meski kualitasnya sering dianggap cukup baik, pedagang mengaku masalah utama saat ini bukan barangnya, melainkan sepinya pembeli.
Thrifting Punya Dua Sisi
Fenomena thrifting sebenarnya tidak selalu dipandang negatif.
Pakar ekonomi Suardi Bakri menjelaskan bahwa tren ini memiliki dua sisi yang berbeda.
Di satu sisi, thrifting membantu mengurangi limbah tekstil dan mendorong konsumsi yang lebih berkelanjutan. Selain itu, pakaian bekas juga memberi akses bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk mendapatkan pakaian layak dengan harga murah.
Namun di sisi lain, maraknya thrifting juga dinilai bisa mengancam industri tekstil lokal jika masyarakat lebih memilih pakaian bekas impor dibandingkan produk dalam negeri.
Selain itu, pakaian bekas yang tidak disterilkan dengan baik juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Regulasi Masih Jadi Perdebatan
Pengamat kebijakan publik Trubus Rahardiansyah menilai persoalan thrifting juga berkaitan dengan lemahnya pengawasan terhadap impor pakaian bekas.
Menurutnya, pemerintah perlu bersikap lebih tegas: apakah ingin benar-benar melarang atau justru melegalkan perdagangan thrifting dengan regulasi yang jelas.
Tanpa kebijakan yang konsisten, praktik impor pakaian bekas diperkirakan akan terus berlangsung.
Harapan Pedagang Jelang Lebaran
Meski kondisi pasar masih sepi, para pedagang tetap berharap situasi akan membaik menjelang Idul Fitri.