Overstimulation: Alasan di Balik Fokus yang Mudah Pecah dan Rasa Cemas Anda
ilustrasi overstimulation.-dok. istimewa-
bogor.disway.id - Pernahkah Anda merasa sangat lelah secara emosional, sensitif terhadap suara bising, atau sulit berkonsentrasi bahkan untuk membaca satu halaman buku? Itu adalah tanda bahwa otak Anda sedang mengalami Overstimulation.
Stimulasi berlebihan terjadi ketika panca indra dan pikiran kita dibombardir oleh informasi, cahaya, suara, dan aktivitas yang melebihi kapasitas otak untuk memprosesnya. Di dunia yang penuh dengan notifikasi ponsel, video pendek, dan tuntutan pekerjaan, otak kita hampir tidak pernah berada dalam kondisi "tenang" yang sebenarnya.
Tanda-Tanda Anda Sedang Terstimulasi Berlebihan
- Gampang Marah: Hal-hal kecil yang biasanya biasa saja tiba-tiba terasa sangat mengganggu.
- Brain Fog: Merasa linglung, sulit membuat keputusan sederhana, atau sulit mengingat informasi baru.
- Kecemasan Tanpa Alasan: Jantung berdebar atau merasa gelisah karena pikiran yang terus berkejaran (Racing Thoughts).
- Kelelahan Sensorik: Merasa sangat terganggu oleh cahaya yang terlalu terang atau suara TV yang sebenarnya volumenya normal.
Mengapa Hal Ini Terjadi?
Penyebab utama saat ini adalah Dopamine Loop. Setiap kali kita membuka media sosial, otak mendapatkan suntikan dopamine kecil. Kita terus mencari stimulasi baru untuk menjaga perasaan "senang" tersebut, namun tanpa sadar saraf kita menjadi jenuh dan kelelahan. Ini adalah lawan utama dari pola hidup Slow Living.
Cara Mengatasi Overstimulation (Brain Reset)
Jika Anda mulai merasa kewalahan, lakukan langkah-langkah darurat ini untuk menenangkan sistem saraf:
- Kurangi Input Sensorik: Masuklah ke ruangan gelap atau redupkan lampu. Gunakan penutup telinga atau noise-canceling headphones jika lingkungan terlalu bising.
- Praktikkan "Grounding": Lepaskan alas kaki dan berjalanlah di atas rumput atau lantai, atau cukup pegang benda dingin. Ini membantu menarik perhatian otak dari "kekacauan pikiran" kembali ke "sensasi tubuh".
- Lakukan Monotasking: Berhenti mencoba melakukan banyak hal sekaligus. Pilih satu aktivitas manual yang sederhana, seperti mencuci piring atau menyiram tanaman, tanpa suara latar belakang.
- Terapkan "No Screen 1 Hour Before Bed": Cahaya biru adalah stimulan kuat yang harus dihindari agar sistem saraf bisa beralih ke mode istirahat.
- Jadwalkan Waktu Niksen: Biarkan otak Anda melamun. Ini bukan pemborosan waktu, melainkan proses "pembersihan" sirkuit otak dari data yang berlebihan.
Menghargai Kapasitas Diri
Otak kita bukanlah mesin yang bisa dipaksa bekerja tanpa henti dengan stimulasi tanpa batas. Menyadari kapan Anda mengalami overstimulation adalah langkah pertama menuju Self-Love. Dengan memberikan jeda, Anda tidak hanya menyelamatkan kesehatan mental, tetapi juga mengembalikan ketajaman pikiran Anda untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Sumber: