One Parent One Language: Rahasia Anak Jago Dua Bahasa Sejak Dini

One Parent One Language: Rahasia Anak Jago Dua Bahasa Sejak Dini

ilustrasi bahasa asing.-dok. istimewa-

bogor.disway.id - Prinsip dasar OPOL adalah setiap orang tua secara konsisten hanya berbicara dalam satu bahasa spesifik kepada anak. Misalnya, Ibu selalu menggunakan Bahasa Indonesia, sementara Ayah selalu menggunakan Bahasa Inggris.

1. Konsistensi Adalah Kunci Utama

Anak-anak belajar melalui pola. Jika Ayah terkadang berbicara bahasa Inggris dan terkadang bahasa Indonesia, otak anak akan kesulitan memisahkan kedua sistem bahasa tersebut.

Tips: Tetaplah pada bahasa "tugas" masing-masing, bahkan saat pasangan ada di depan Anda. Ini membantu anak mengasosiasikan satu orang dengan satu bahasa secara otomatis.

2. Jangan Khawatir Tentang "Language Mixing"

Sangat normal jika di awal masa bicaranya, anak mencampur kosakata dari kedua bahasa (misal: "I mau makan apple"). Ini bukan tanda kebingungan, melainkan tanda bahwa otak mereka sedang memproses kedua bahasa secara bersamaan.

Cara Merespons: Jangan memarahi atau mengoreksi secara kasar. Cukup ulangi kalimat anak dengan versi bahasa yang benar sesuai tugas Anda.

3. Ciptakan Kebutuhan untuk Berkomunikasi

Anak akan lebih cepat mahir jika mereka merasa "perlu" menggunakan bahasa tersebut. Jika anak meminta sesuatu dalam Bahasa Indonesia kepada Ayah (yang bertugas bahasa Inggris), Ayah bisa berpura-pura tidak mengerti dengan lembut atau memancing anak untuk menggunakan kata dalam bahasa Inggris.

4. Dukungan Media dan Lingkungan

Metode OPOL akan lebih kuat jika didukung oleh sumber daya lain.

Buku & Film: Sesuaikan buku cerita atau tontonan dengan bahasa yang porsinya lebih sedikit di lingkungan sekitar. Jika kalian tinggal di Indonesia, berikan lebih banyak akses buku dan lagu dalam bahasa asing (sebagai bahasa minoritas) untuk menyeimbangkan paparan.

5. Sepakati "Bahasa Keluarga"

Tentukan bahasa apa yang digunakan saat seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan. Beberapa keluarga menggunakan bahasa mayoritas lingkungan, sementara yang lain menggunakan bahasa minoritas agar anak mendapatkan lebih banyak latihan. Yang penting, hal ini dibicarakan agar tidak ada pihak yang merasa "dikucilkan" dalam percakapan.

Sumber: