Bakteri baik di dalam usus membutuhkan pasokan makanan agar bisa berkembang biak dan bekerja optimal memproduksi hormon kebahagiaan. Makanan untuk bakteri baik ini disebut prebiotik, yang umumnya berupa serat larut dari tumbuhan.
Pilihan Praktis: Buah pisang, bawang putih, bawang merah, asparagus, oats, dan buah-buahan beri. Sepotong pisang di pagi hari bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan bahan bakar bagi mikrobioma usus untuk memproduksi energi bagi otak Anda.
3. Batasi Konsumsi Gula Rafinasi dan Makanan Olahan (Ultra-Processed Food)
Gula pasir, tepung terigu putih, makanan cepat saji, dan camilan kemasan yang tinggi zat pengawet adalah makanan utama bagi bakteri jahat di dalam usus.
Efek Buruk: Ketika Anda mengonsumsi gula berlebihan, bakteri jahat akan berkembang biak dengan sangat cepat, memicu peradangan (inflamasi) pada dinding usus, dan mengirimkan sinyal stres ke otak pusat melalui saraf vagus. Ini menjelaskan mengapa setelah mengonsumsi makanan manis berlebih, tubuh sering kali mendadak lemas dan suasana hati memburuk (sugar crash).
Kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari kesehatan fisik secara menyeluruh. Menjaga pikiran tetap jernih, fokus, dan bebas dari kecemasan berlebih tidak cukup hanya dengan bermeditasi atau liburan (healing). Mulai hari ini, perlakukan usus Anda dengan penuh rasa hormat. Dengan beralih ke makanan yang padat nutrisi alami, kaya serat, serta membatasi makanan olahan, Anda sedang merawat miliaran pekerja kecil di dalam perut Anda yang siap membalasnya dengan suntikan kebahagiaan, kedamaian mental, dan energi yang stabil sepanjang hari.