Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia tidak hanya memukul kondisi finansial pekerja, tetapi juga memicu tekanan psikologis yang jarang dibahas. Banyak mantan pekerja mengalami krisis identitas, burnout berkepanjangan, hingga kecemasan terhadap masa depan.
Psikolog klinis Ratna Megawati menyebut kondisi ini sebagai identity dissolution atau pembubaran identitas. Menurutnya, kehilangan pekerjaan tetap bukan sekadar pergantian profesi, melainkan runtuhnya status sosial, komunitas, dan pengakuan diri yang selama ini melekat pada jabatan.
“Ketika gelar seperti manajer atau supervisor hilang, sebagian orang merasa kehilangan arah dan jati diri,” ujarnya.
Sementara itu, psikolog organisasi Dr. Ario Baskoro menyoroti fenomena micro-burnout di sektor ekonomi gig. Berbeda dari tekanan korporat yang berkembang perlahan, kelelahan di pekerjaan berbasis aplikasi muncul dari target harian, tekanan algoritma, dan ketidakpastian pendapatan.
Meski demikian, para ahli menilai transisi ini bukan akhir segalanya. Dengan dukungan sosial dan adaptasi yang tepat, pekerja masih bisa membangun stabilitas baru.
Ekonom Waspadai Lonjakan Sektor Informal
Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, mengingatkan bahwa tanpa strategi peningkatan kualitas SDM, regulasi yang konsisten, dan dukungan pembiayaan usaha, Indonesia berisiko menghadapi pembengkakan sektor informal dalam 10–15 tahun ke depan.
Ia menekankan tiga langkah penting: pembangunan infrastruktur dan SDM, penciptaan iklim usaha yang ramah, serta dukungan agar UMKM dapat naik kelas. Kebijakan saat ini, menurutnya, akan menentukan apakah bonus demografi menjadi peluang atau beban.
Dari Kantoran ke Driver Aplikasi
Peralihan mantan pegawai kantoran menjadi pengemudi aplikasi kini semakin umum.
Andika Prasetyo, mantan supervisor manufaktur di Bekasi, memilih keluar dari pekerjaan lamanya setelah hampir satu dekade bekerja dengan jam panjang dan tekanan target tinggi. Kini ia menjadi driver ShopeeFood dan merasa memiliki kendali waktu lebih baik, meski harus merelakan status sosialnya.
Rina Amelia, korban PHK startup, juga beralih menjadi pengantar makanan untuk menjaga arus kas keluarga sambil mencari peluang baru.
Sementara Toni Sutrisno, mantan staf logistik, memilih menerima pesangon daripada relokasi dan kini bekerja sebagai driver demi tetap dekat dengan keluarga.
Kisah mereka menunjukkan bahwa dampak PHK jauh melampaui urusan penghasilan. Trauma penurunan kelas sosial, krisis identitas, dan micro-burnout menjadi realitas baru di era kerja fleksibel.
Namun di balik tekanan tersebut, sebagian pekerja menemukan ulang makna kerja—bahwa fleksibilitas, kendali waktu, dan kualitas hidup kadang lebih berharga daripada sekadar jabatan.