Sementara Rayhan menyayangkan game terus dijadikan kambing hitam.
“Saya nggak pernah kepikiran berbuat kekerasan habis main game. Tujuan saya cuma have fun,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika game diblokir, bukan hanya hiburan yang hilang, tetapi juga mata pencaharian banyak orang di industri game dan e-sports.
Perspektif Psikologi: Game Bukan Faktor Tunggal
Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menegaskan bahwa kekerasan tidak lahir dari satu faktor semata.
“Seribu anak main game kekerasan hari ini, bukan berarti seribu anak itu akan berbuat kekerasan besok,” ujarnya.
Menurut Reza, game hanyalah stimulus. Faktor keluarga, lingkungan, pendidikan, dan kondisi psikologis jauh lebih menentukan arah perilaku anak.
Game Online: Musuh atau Penyelamat?
Di Colosseum Arena, game bukan ancaman. Ia menjadi ruang istirahat mental bagi mereka yang kelelahan menjalani hidup.
Tak semua gamer adalah remaja kecanduan atau pelaku kekerasan. Banyak di antaranya justru pekerja yang bertahan agar tetap waras.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi soal menyalahkan game, melainkan sejauh mana orang tua, sekolah, dan negara hadir untuk mengawal ruang digital agar tetap sehat dan aman.
Baca versi lengkapnya diliputan khusus Bisik Disway - Ketika Gamers Memohon, Free Fire dan Roblox Jangan Dijadikan Kambing Hitam Pemicu Kekerasan