People Pleasing: Saat Kebaikan Menjadi Beban Bagi Diri Sendiri
ilustrasi people pleaser.-dok. istimewa-
bogor.disway.id - Apakah Anda sering merasa cemas jika ada orang yang kecewa pada Anda? Atau Anda sering meminta maaf meski bukan kesalahan Anda? Jika ya, Anda mungkin sedang terjebak dalam pola People Pleasing.
Seorang People Pleaser merasa bahwa harga dirinya bergantung pada pengakuan orang lain. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang biasanya terbentuk sejak masa kecil untuk menghindari konflik atau mendapatkan rasa aman.
Mengapa Kita Menjadi People Pleaser?
Secara psikologis, ada beberapa pemicu utamanya:
Ketakutan akan Penolakan: Merasa jika kita tidak membantu, orang akan meninggalkan atau membenci kita.
- Low Self-Esteem: Kurang merasa berharga sehingga membutuhkan validasi dari luar untuk merasa "cukup".
- Trauma Masa Lalu: Tumbuh di lingkungan di mana kasih sayang hanya diberikan jika kita menjadi "anak baik" atau penurut.
- Menghindari Konflik: Menganggap ketenangan sementara lebih penting daripada kejujuran diri sendiri.
Dampak Buruk bagi Hidup Anda
Menjadi People Pleaser adalah jalan pintas menuju Burnout. Dampaknya meliputi:
- Kehilangan Jati Diri: Anda terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain hingga lupa apa yang sebenarnya Anda inginkan (Self-Care terabaikan).
- Resentment (Kebencian Terpendam): Anda merasa lelah membantu, namun tetap melakukannya, yang akhirnya menimbulkan rasa kesal pada orang lain dan diri sendiri.
- Overstimulation Mental: Otak terus bekerja memikirkan cara agar semua orang senang, yang memicu kecemasan konstan.
- Langkah Berhenti Menjadi People Pleaser
Memutus siklus ini butuh keberanian, namun sangat membebaskan:
Sadari Bahwa Anda Tidak Bisa Menyenangkan Semua Orang: Selalu akan ada orang yang tidak setuju atau tidak suka, dan itu bukan tanggung jawab Anda untuk memperbaikinya.
- Validasi Diri Sendiri: Mulailah merasa cukup dengan diri sendiri. Anda berharga bukan karena apa yang Anda lakukan untuk orang lain, tapi karena siapa Anda sebenarnya.
- Latih Jeda Sebelum Mengiyakan: Gunakan teknik yang kita bahas di Seni Berkata Tidak. Ambil waktu untuk bertanya: "Apakah saya benar-benar ingin melakukan ini, atau saya hanya takut mereka kecewa?"
- Terima Rasa Tidak Nyaman: Saat pertama kali menolak, Anda akan merasa bersalah. Terimalah rasa itu sebagai bagian dari proses pertumbuhan menuju pribadi yang lebih asertif.
Menjadi Baik, Bukan Penurut
Ada perbedaan besar antara menjadi orang baik dan menjadi people pleaser. Orang baik membantu karena keinginan tulus, sementara people pleaser membantu karena ketakutan. Dengan melepaskan topeng ini, Anda memberikan ruang bagi hubungan yang lebih jujur dan sehat.
Sumber: