Bosan Rutinitas Kantor? Ini Alasan Psikologis & Ekonomi Tren Berkebun Anak Muda

Bosan Rutinitas Kantor? Ini Alasan Psikologis & Ekonomi Tren Berkebun Anak Muda

an illustration of urban farming.-dok. canva-

bogor.disway.id - Di tengah riuhnya kehidupan megapolitan—suara klakson kendaraan, deretan gedung pencakar langit, hingga tenggat waktu pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya—terjadi sebuah pergeseran tren yang menarik pada Generasi Z dan Milenial.

Lini masa media sosial mendadak dipenuhi oleh estetika Cottagecore: foto-foto memanggang roti sendiri dari awal, merajut pakaian, memelihara tanaman hias, hingga memanen sayuran di pekarangan rumah.

Di saat yang sama, tren Urban Farming (pertanian perkotaan) meledak di kawasan pemukiman padat.

Mengapa generasi yang tumbuh bersama pesatnya teknologi digital ini justru merindukan gaya hidup lambat (slow living) khas pedesaan abad pertengahan?

Fenomena ini bukanlah sekadar tren estetika visual sesaat, melainkan mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) terhadap tekanan psikologis dan realitas ekonomi modern.

1. Alasan Psikologis: Pelarian dari Burnout dan Kelelahan Digital

Secara mental, tuntutan hidup di kota besar menciptakan beban kognitif yang konstan. Tren Cottagecore hadir sebagai penawar (antidote) dari beberapa masalah psikologis utama:

A. Kelelahan Akibat Hyper-Connectivity

Anak muda kota dituntut untuk selalu mengonsumsi informasi, merespons pesan instan, dan memaparkan diri pada layar digital selama lebih dari 8 jam sehari.

Cottagecore menawarkan romantisisme kesederhanaan, di mana waktu diukur dari pertumbuhan tanaman atau aroma roti yang dipanggang, bukan dari jumlah likes atau notifikasi email.

B. Kerinduan akan Tactile Satisfaction (Hasil Kerja Nyata)

Banyak pekerjaan modern di era digital bersifat abstrak—mengetik dokumen, menyusun presentasi, atau menganalisis data digital yang hasilnya tidak bisa disentuh secara fisik.

Aktivitas seperti menyentuh tanah, menanam benih, merawat sayur, dan memanennya memberikan kepuasan sensorik nyata (tangible reward) yang memicu pelepasan dopamin secara alami dan menenangkan sistem saraf yang tegang.

2. Alasan Ekonomi: Respons Terhadap Ketidakjangkauan Properti & Inflasi

Sumber: